Wednesday, March 01, 2006

Opini

Pers, Rumor, dan Teror
Indo.Pos, Rabu, 01 Mar 2006

A. Bakir Ihsan

Pers sebagai tonggak terpenting abad ini sulit terbantahkan. Bahkan, pers atau media massa menjadi bagian terpenting bagi hancurnya otoritarianisme dan menguatnya transparansi serta menyebarnya virus demokrasi di berbagai pelosok negeri.
Namun karena pers pula, masifikasi informasi terjadi dan metamorfosis kata seakan menjadi nyata. Inilah dunia simulakra yang menyulap wacana menjadi fakta.
Melihat peran strategis media massa, tak berlebihan bila semua orang punya harapan melebihi harapan media massa itu sendiri. Namun, tidak jarang harapan tersebut berbuah kekecewaan karena media massa kadang mengaburkan batas antara dunia maya dan dunia nyata, antara kata dan fakta. Ada berita yang sesungguhnya hanya berdasar kata, tetapi seakan hadir dalam dunia nyata karena rekayasa berita.
Produksi kata atau berita tanpa fakta sering disebut rumor, gosip, atau desas-desus karena tidak terjamin kebenarannya (cannot be verified and is of doubtful accuracy). Berita yang berdasar rumor bisa dianggap angin lalu, tapi bisa juga menjadi sebuah teror.
Orang-orang istana dibuat repot dan kelabakan karena rumor mobil Jaguar. Afghanistan digempur Amerika karena rumor Usamah bin Laden ada di sana dan seorang suami membunuh istrinya karena rumor perselingkuhan. Inilah jagad simulakra yang memprovokasi kata menjadi nyata.
Rumor biasanya muncul karena keterbatasan pengetahuan dan ketidakpastian informasi soal yang dirumorkan. Dunia artis, lingkungan istana, dan dunia kaum elite merupakan lahan subur munculnya rumor.
Rumor menjadi semakin krusial ketika secara intens didistribusikan melalui media massa, termasuk pers yang tidak secara intens diikuti pembacanya. Dengan demikian, terjadinya distorsi terhadap berita (teks) menjadi sangat terbuka dan sekaligus mengeruhkan rumor.
Kondisi itu dengan sendirinya semakin mendistorsi dan menderivasi kenyataan berdasar rumor tersebut. Bahkan, melalui rekayasa berita, rumor seakan menjadi lebih dramatis daripada kenyataan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, rumor tersebut menjadi orbitasi realitas. Ia membentuk semacam orbit yang berputar-putar di atas panggung imajiner pembacanya. Secara perlahan tapi pasti, ia merasuk dalam kesadaran untuk kemudian meyakinkan bahwa ia betul-betul ada.

Terorisme Rumor
Rumor awalnya mungkin dianggap sepele dan main-main karena setiap orang bisa memproduksinya tanpa biaya dan analisis. Tetapi, konsekuensi yang ditimbulkannya bisa sangat fatal.
Dalam skala nasional, persoalan rumor sering menjadi pemantik kekacauan, kerusuhan, demonstrasi, konflik, dan tawuran. Ia menjadi bara dalam sekam yang sulit dipadamkan karena tidak memiliki pijakan, tetapi telanjur memprovokasi kesadaran masyarakat. Warga antarkampung tawuran karena rumor bahwa temannya dianiaya warga kampung lain. Kerusuhan bernuansa SARA meledak karena isu pelecehan terhadap unsur SARA.
Begitu juga di bidang ekonomi, para pialang di pasar modal panik dan bingung karena rumor yang mengancam harga saham. Bahkan, berawal dari rumor pula, seorang Richard M. Nixon harus lengser dari jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat.
Pada titik itu, rumor telah menjadi teror yang mengancam kesadaran publik. Sekali lagi, pers menjadi media yang paling ampuh untuk menempatkan rumor secara proporsional dan berimplikasi positif.
Rumor merupakan bagian dari sumber informasi. Revolusi informasi yang menandai abad ini telah memaksa setiap orang untuk menyerap sebanyak-banyaknya informasi. Kemampuan menguasai informasi menjadi modal menguasai abad ini. Itulah sebabnya, orang atau institusi negara berlomba-lomba menguasai informasi dengan segala cara, termasuk dari rumor.
Bahkan, Amerika di bawah kendali George W. Bush mengambil kebijakan menyerang Iraq berdasar rumor tentang adanya senjata pemusnah masal yang tak pernah terbukti, kecuali korban kemanusiaan dan peradaban yang tak terkira.
Begitu kuatnya godaan informasi sehingga merangsang orang mencarinya melalui berbagai sumber. Ketika sumber formal informasi tak lagi tersedia, dia akan mencari katup informasi lain yang informal dan liar.
Dari sini rumor diproduksi dan direproduksi. Reproduksi rumor secara kontinu akan menciptakan sebuah kesadaran untuk kemudian menggerakkan tindakan dan keyakinan. Ketika rumor telah merasuk pada ambang batas keyakinan, di sinilah problem sosiologis-politik bisa memuncak. Ia akan menjelma menjadi teror yang siap meruntuhkan pamor yang terlibat dalam rumor (perumor atau yang dirumorkan). Ketika rumor tak terbukti, dengan sendirinya ia akan meruntuhkan parmor perumor. Sebaliknya, ketika rumor terbukti, ia bermetamorforsis menjadi fakta.
Karena itu, untuk meminimalkan terorisme rumor, diperlukan tata komunikasi sosial yang egaliter, transparan, dan rasional sehingga rumor tak memiliki ruang aktualisasi. Kalau pun rumor tersebut dipaksakan untuk didistribusikan tanpa seleksi, peran transformasi pers harus dipertaruhkan bagi kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Pers tidak bisa hanya sekadar media pendistribusi informasi. Di dalamnya perlu keberpihakan bagi terciptanya masyarakat yang terbuka (open society). Semoga.

A.Bakir Ihsan, mantan pekerja pers, kini dosen Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta

No comments: